Langsung ke konten utama

Serba Serbi Parenting di Jakarta

Inspired by Cup of Jo Blog, rasanya seru juga ya menjabarkan hal-hal unik tentang parenting di Indonesia, tapi untuk nulis postingan ini, butuh waktu 15 menit cuma buat mikir judulnya aja haha! Awalnya sih pengen nulis tentang parenting di Indonesia secara general, tapi rasanya kurang pas sih karena gw sendiri dari lahir sampe melahirkan anak sendiri di Jakarta, so I decided to wrote something that really happened to me dan gw yakin tiap provinsi di Indonesia has their own habits of parenting yang pastinya unik-unik. Dan di Jakarta pun perlakuan terhadap anak-anak sama sekali gak seragam, tergantung dengan ‘kelas’ kesejahteraan yang terbagi menjadi: kelas atas, kelas menengah atas, kelas menengah aja, kelas menengah bawah dan kelas bawah. Bukan bermaksud membeda-bedakan, namun udah pada tau lah yaa tingkat kesejahteraan Indonesia itu sungguh tidak merata, so yeah that’s sad reality. And as usual, please don’t take it too seriously, it just my cheesy-observation as a new mom.


On pregnancy
Seperti selayaknya ibu baru, we are very exciting on welcoming the bump. Saking excitednya, kebanyakan juga jadi overprotective, bukan hanya si bumil tapi juga suami, keluarga dan orang di sekitarnya. Kalo dari bumilnya sendiri, dari yang ganti semua bahan makanan jadi organic, stop minum kopi dan teh, gak mau naik tangga even cuma beberapa anak tangga dan ada juga yang sampe ganti-ganti Obgyn karena entah itu gak puas sama dokternya atau bete karena setiap USG, muka anaknya kurang jelas terlihat (what?! Tapi ada loh, ada!). Begitu juga dengan suami dan ORANGTUA serta MERTUA yang overprotektif banget apalagi menyangkut cucu pertama! Hyuuuk… Ditambah, se-modern apapun orang Indonesia, tapi tetep aja masih percaya mitos yang gak ada penjelasan medisnya sama sekali. Misalnya:
  1. Gak Boleh Minum Aer Es: karena takutnya baby-nya jadi gendut (zz)
  2. Gak Boleh Pake Minyak Kayu Putih: karena takut baby-nya kepanasan (zzz)
  3. Gak Boleh Makan Kepiting: karena takut baby-nya pas lahir gak mau diem (zzzz)
  4. Harus Banyak Minum Air Kelapa: biar pas lahir baby-nya putih (zzzzzzzzzzzzzzzz)
Tapi yaudahlah, aturan macam itu cukup direspon dengan senyuman lebar aja, karena gimana pun juga para tetua ngomong gitu karena terlalu sayang sama sang jabang bayi (bayinya aja kok, ibunya disayang bapaknya aja cukup hahaha). 

On Pregnancy and Post-Maternal Ceremony
Kalo disuruh ngejabarin upacara perayaan dalam penyambutan jabang bayi di Indonesia sih gw nyeraaaah, secara kan ada 34 provinsi dan each of them has their own culture, so there is a loooooooooooot of ceremonies. Untuk gw sendiri, dari hamil sampai melahirkan gak pernah melakukan acara adat apapun, cukup melakukan pengajian 4 bulanan dan akikah ketika berumur 40 hari secara sederhana ajaah. But still, it was very sacred to us. Tapi ini cukup membuktikan sih, orang Indonesia itu senang dengan berbagai perayaan, ada yang menjalaninya karena pengen nerusin budaya leluhur, tapi ada juga yang melakukannya just to embrace the happiness.

And about...
Safety:  terutama car safety, gw rasa awareness ibu-ibu Jakarta masakini udah cukup tinggi dengan pakein carseat untuk bayi / toddler mereka (walaupun pada prakteknyaaaa, emaknya mesti banget ikutan duduk di belakang trus klo cranky ujungnya juga dipangku zzz yang penting usaha yee kan). Tapi sayangnya justru dari pemerintah belum ada peraturan yang mengharuskan bayi/balita/batita untuk duduk di carseat ketika orangtuanya mengendarai mobil.

Eating habit: gw gak paham sih ini gw doang yang ngerasa atau emang seluruh ibu-ibu Jakarta masakini kasih anaknya only organic foods. Sejak merebaknya selebgram dengan lifestyle mereka yang super healthy, kayaknya jadi berefek sampe ke baby foods. Mudah-mudahan bukan cuma latah semata yaa, tapi memang krn efeknya yang baik untuk kesehatan. Kalo untuk menu makanan, gw rasa anak Indonesia sih dikasih apaan juga doyaaan, karena basically kita terbiasa dengan jutaan jenis masakan Indonesia yang punya berbagai rasa. Jadi gak ada patokan tertentu sih. And of course, our kids loves rice just like us :p 

School: sebagian ibu-ibu masakini yang gw kenal percaya semakin muda anak sekolah semakin pintar anak nantinya. Tapi gw sih enggak *dimusuhin geng busui* kalo gw merasa anak kecil yaaa kerjaannya emang cuma main dan dari main itu lah mereka belajar, kalo merasa kurang stimulasi yaa tinggal sering-sering aja ortunya bikin sensory play pake bahan sehari-hari yang murah meriah lalu bisa ditambah sering diajak ke tempat outdoor. Walaupun gak salah jugaa sih ibu-ibu yang masukin anak mereka sekolah bahkan sebelum anaknya berumur 2 tahun, apalagi klo ditunjang dengan financial yang memang mencukupi (lagi – lagi duiiiit, ketauan deh alesan aslinya gw huehuehue).

Playground: Ini bagian yang cukup memprihatinkan. Playground yang mumpuni di Jakarta kynya memang kurang banget yaaa dibandingkan dengan jumlah anak Jakarta. Kadang klo udah mati gaya bosen nge-mall, bingung juga sih harus kemana. DI deket rumah sih ada, tapi yaa gituu, jauh banget dari kata terawat, bahkan gak jarang di jadiin tempat pacaran para alay zzz. Mudah-mudahan kesadaran pemerintah akan pentingnya waktu bermain untuk anak semakin tinggi, dan makin banyak juga dibangun playground-playground kece di segala penjuru kota. Jadi jangan salahin para orangtua juga sih klo ujung-ujungnya ngajak anak ke Mall tiap weekend.

Sopan Santun: Gak usah ditanya deh yaa soal ini, anak Indonesia dari kecil memang udah diajarin harus mengedapkan sopan santun. Mulai dari cium tangan orang yang lebih tua, gak boleh berisik ketika makan, gak boleh membantah orangtua dsb. Tapi dibalik sisi sopan santun seperti itu, anak-anak jadi cenderung takut menyampaikan pendapat, tidak boleh memilih apa yang mereka suka karena mostly segala keputusan ada di tangan orangtua. Walaupun gak semua, tapi klo diperhatiin sih sebagian besar masih menganut paham parenting seperti ini.

Sebenernya sih masih banyaaak, tapi udah mulai capek nulis dan udah mau jam pulang kantor (ketauan kan hari ini magabuts hahaha). Yaa apapun itu, harus keep in mind klo perlakuan tiap orangtua ke anaknya bisa aja berbeda-beda, tapi semuanya pasti baik dan disesuaikan dengan keadaan anak serta lingkungan di sekitarnya.  Baiklaaah sekian buibuuuu, Happy weekeeeend!

Komentar

  1. Gw juga abis baca tuntas seriesnya yang motherhood around the world dan yg tergengges, disetiap postingannya pasti ada olshop indo jualan.. Pake bahasa infonesia pulak.. Pengen copot pala berbi #salahfokus

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: Perjalanan 'Mencari' Breastpump

Bisa dibilang bunda adalah Ratu Breastpump! Gak bercanda kok beneran ratu, secara segala rupa breastpump udah dicobain huahuahua *sambil pake mahkota and selendang bulu bulu*
Pas Athira masih ada di dalem perut bunda, salah satu hal yang paling bunda concern adalah soal breastpump. Kenapa? Yaaa karena namanya juga wanita karir yaaa kan, harus dong pompa pompa kumpulin tetes demi tetes ASI. Pas hamil awal-awal udah browsing berbagai forum mama urban dan tanya temen kanan kiri. Review nya macem - macem dan makin bikin bingung. Tapi setelah gundah gulana selama beberapa saat, akhirnya bunda menetapkan pilihan pada *jreng jreng*..... Breastpump Manual! 
Gosip punya gosip, manual tuh kemungkinan sakitnya lebih kecil terus hisapannya bisa disesuaiin pake feeling pas dapet LDR nya (fyi for newbie, LDR tuh bukan lagunya Raisa, tapi... Let-Down Reflex; gampangnya sih keadaan dimana si Ibu dan bayi merasa rileks dan nyaman ketika menyusui, sehingga ASI yang keluar pun jadi deraaas bgt, biasany…

Imunisasi di Rumah Vaksinasi BSD

Salah satu hal yang gak menyenangkan setelah gw resign adalah berkurangnya plafond tunjangan kesehatan kantor ahahaha! ZBL sih yang tadinya bisa hambur hambuuur plafond kesehatan di RS swasta, sekarang harus di eman-emaaan sist. Padahal di umur-umur Athira & Alif lagi gencar-gencarnya sering bener ke klinik dan rumah sakit, terutama buat imunisasi.

Preeklamsia pada Kehamilan Kedua

Assalamualaikum, selamat pagi! Hari ini pengen berbagi tulisan tentang preeklamsia, penyakit yang sempat saya alami di kehamilan yang pertama. 
Well, first of all, apakah itu preeklamsia? sebuah komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tanda-tanda kerusakan organ, misalnya kerusakan ginjal yang ditunjukkan oleh tingginya kadar protein pada urine (proteinuria).